Monday, 11 February 2013

Aspek Pendukung Budidaya Ikan Gurami

Dari tulisan sebelumnya dapat disimpulkan beberapa hal, diantaranya adalah :
· Aspek pasar masih cukup luas dilihat dari peluang pasarnya. Untuk ikan gurami sebesar 280,71 ton dan untuk ikan nila sebesar 1477,43 ton. Permintaan masih lebih besar dibandingkan penawaran, karena tiap tahun permintaan selalu meningkat. Hingga akhir tahun 2014 permintaan ikan sebesar 23.094.132,80 ton, sedangkan penawaran ikan nasional 13.244.600 ton.

· Aspek teknis usaha budidaya ikan gurami dan usaha budidaya ikan nila meng-gunakan sistem semi-intensif (madya). 

· Aspek finansial sudah layak dalam pelaksa-naannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Karena memberikan keun-tungan setiap tahunnya yaitu keuntungan bersih (EAZ) sebesar Rp. 50.109.178,75 dan ikan nila sekitar Rp. 84.888.943,85. Nilai REC masing – masing sebesar 64,03 % dan 102,87 % yang lebih besar dari suku bunga deposito bank sebesar 8,71 %. Sedangkan pada analisis jangka panjang dengan menggunakan discount rate sebesar 16% per tahun selama 10 tahun masing – masing untuk ikan gurami dan ikan nila diperoleh NPV sebesar Rp. 287.501.653 dan Rp. 510,422,496, Net B/C ratio sebesar 5,91 dan 3,5, IRR sebesar 125,71 % dan 75,73 %, Payback Periode 2,17 tahun dan 4,25 tahun yang lebih kecil dari Payback Periode maksi-mum yakni 6,25 tahun, sehingga berda-sarkan nilai tersebut usaha ini layak.

· Penerapan aspek manajemen dari fungsi perencanaan, pengorganisasi, pergerakan dan pengendalian cukup baik meskipun masih sederhana. 

· Dari aspek hukum, usaha tersebut belum mempunyai Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Nomor Pengguna Wajib Pajak (NPWP), Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tetapi hanya mempunyai surat pengakuan terdaftar dari kantor Sub-Dinas Perikanan Kabupaten Nganjuk. 

· Aspek kelembagaan usaha tersebut cukup bagus karena adanya peran lembaga penyedia sarana produksi, lembaga penyu-luhan meskipun dari lembaga penyedia dana masih belum ada perhatian lebih.

· Aspek sosial ekonomi cukup baik, karena dapat memberikan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar, sehingga dapat membantu dalam peningkatan pen-dapatan penduduk dan membantu peme-rintah dalam upaya mengurangi jumlah pengangguran.

· Aspek lingkungan pada usaha budidaya ikan ini memberikan dampak positif karena usaha budidaya ikan tidak meng-hasilkan limbah yang terlalu berbahaya bagi lingkungan baik perairan maupun kesehatan dari masyarakat sekitar lokasi usaha. Bahkan kotoran ikan dapat digu-nakan untuk pupuk bagi tanaman padi yang ada disekitar kolam.


Untuk peningkatan hasil produksi dan peningkatan pendapatan keluarga, masyarakat dan pemerintah daerah, maka pengembangan usaha budidaya lebih diperluas dengan perluasan jaringan pemasaran, peningkatan metode budidaya yang lebih efektif dan efisien dengan sistem budidaya intensif, perbaikan manajemen usaha dan sumberdaya manusia, pengembangan kelembagaan dengan menjalin mitra kerja melalui koperasi, pelegalan usaha dan pengelolaan dana sosial baik zakat atau sedekah kepada masyarakat sekitar lokasi usaha.


Dalam upaya pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang lebih optimal dibuatlah rencana usaha budidaya perikanan melalui perluasan daerah budidaya dengan memanfaatkan usaha skala rumah tangga di wilayah Kabupaten Nganjuk baik jangka pendek maupun jangka panjang. Usaha budidaya ikan gurami dengan luas lahan keluarga rata-rata 912,5 m2 pada 10 tahun mendatang akan menghasilkan pro-duksi 15.115.325,89 ton. Sedangkan budidaya ikan nila dengan rata–rata luas lahan keluarga 990 m2, akan dibuat rencana usaha 10 tahun mendatang 39.625,172 ton. Untuk memenuhi permintaan pasar ikan gurami 280,71 ton dan 1.477,43 ton ikan nila dalam 10 tahun mendatang, masing–masing dibutuhkan tena-ga kerja 328 orang dan 4.317 orang dengan lahan seluas 29.979,85 m2 dan 6.191,6 m2. Laba yang akan diperoleh Rp. 1.643.594.183 dan Rp. 5.161.212.852.

Rencana Usaha (Business Plan)

Setiap usaha (bisnis) membutuhkan rencana bisnis (Business Plans) terutama bisnis baru dan bisnis yang mengharapkan perubahan atau pertumbuhan yang signifikan dalam waktu dekat. Dalam teori, rencana bisnis akan memberikan arahan strategis bagi keberlang-sungan aktivitas usaha (bisnis) yakni dengan menuliskan/ mendeskripsikan tujuan dan cara mencapainya, yang kemudian mengikuti renca-na yang telah ditulis untuk mencapai target. 

Berikut ini rencana usaha pengembangan budidaya ikan gurami dan ikan nila yang diharapkan dapat terlaksana di Kabupaten Nganjuk, dalam rangka memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di wilayah tersebut agar lebih optimal. Namun masih banyak kendala yang dihadapi oleh pengusaha, kususnya para calon pengusaha kecil dan menengah dalam mewujudkan dan melaksanakan usahanya tersebut. Salah satu kendala tersebut tampak dalam merencanakan serta mempresentasikan rencana usaha.

Operasional/realisasi dari rencana usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila adalah untuk memenuhi peluang pasar dalam jangka waktu 10 tahun mendatang, untuk ikan gurami sebesar 280,71 ton dan ikan nila sebesar 1.477,43 ton. Sehingga untuk usaha budidaya ikan gurami diperlukan lahan seluas 29.979,85 m2, tenaga kerja 328 orang dan laba yang akan diperoleh sekitar Rp. 1.643.594.183, zakat sebesar Rp. 86.504.957. Apabila besarnya zakat untuk masing – masing orang (yang berhak menerima) sama dengan UMR yang berlaku di Kabupaten Nganjuk sebesar Rp. 354.000, maka penerima zakat tersebut sekitar 20 orang. Demikian juga dengan budidaya ikan nila untuk memenuhi peluang pasar sebesar 1.477,43 ton, diperlukan lahan 6.191,6 m2, tenaga kerja 4.317 orang, laba yang diperoleh Rp. 5.161.212.852, zakat sebesar Rp. 271.642.782, dengan pene-rima zakat sekitar 64 orang.

Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Usaha Budidaya Perikanan

Setiap usaha pasti mempunyai faktor–faktor yang mempengaruhi jalannya usaha, baik itu yang menghambat maupun yang memperlancar usaha tersebut. Faktor pendukung merupakan faktor–faktor yang dapat memperlancar kegiatan budidaya ikan gurami dan ikan nila, diantaranya adalah :
  1. Pemeliharaan ikan gurami dan ikan nila relatif lebih mudah.
  2. Kondisi perairan dan lingkungan usaha yang sesuai dengan habitat ikan.
  3. Sumber air dekat dengan lokasi usaha.
  4. Tersedianya sumber daya alam dan sumber daya manusia.
  5. Harga jual ikan gurami dan ikan nila yang relatif tinggi.
  6. Adanya lahan yang belum termanfaatkan dan sangat baik bila digunakan untuk usa-ha budidaya, sehingga bila lahan tersebut diolah dengan baik akan membantu meningkatkan pendapatan keluarga.
  7. Adanya teknologi budidaya ikan yang lebih efektif dan lebih efisien.
  8. Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk, maka permintaan ikan juga semakin meningkat.
  9. Adanya dukungan dari pemerintah Kabupaten Nganjuk.
  10. Usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila dalam pemasarannya mempunyai jaringan distribusi yang mantap di daerah tertentu.
  11. Mempunyai organisasi dan kelompok kerja yang aktif dan produktif.
  12. Mempunyai kemampuan untuk mempro-duksi ikan dengan ukuran yang sesuai dengan permintaan konsumen.
  13. Mempunyai kemampuan dalam membe-rikan kesejahteraan yang relatif memadai bagi karyawan dan keluarga.
  14. Mempunyai tenaga kerja yang cukup berpengalaman dari segi teknis budidaya.
Beberapa faktor yang menjadi hambatan dalam usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila, diantaranya adalah :
  1. Peralatan pengontrolan kualitas air yang masih kurang.
  2. Belum adanya tenaga ahli khususnya di bidang perikanan yang membantu dalam pelaksanaan usaha.
  3. Pertumbuhan ikan gurami dan ikan nila yang relatif lambat, sehingga membutuhkan waktu berbulan – bulan untuk sampai pada tahap pemasaran.
  4. Tingginya biaya produksi dalam kegiatan usaha budidaya ikan.
  5. Pemasaran ikan yang jauh keluar kota, sehingga mempengaruhi kualitas ikan dan bahkan ikan mudah stress diperjalanan dan akhirnya banyak yang mati sehingga kesegaran ikan tidak tahan lama.
  6. Rendahnya minat penduduk lokal dalam mengkonsumsi ikan gurami, sehingga pema-saran untuk daerah lokal masih rendah.
  7. Manajemen pengelolaan masih sederhana.
  8. Adanya persaingan dengan komoditi per-ikanan dan pengusaha perikanan lainnya.
  9. Kemungkinan berdirinya usaha baru dengan teknologi yang lebih baik.
  10. Dalam jangka waktu panjang belum dapat memenuhi kenaikan permintaan.
  11. Kurang adanya kepercayaan dari penyedia dana baik investor maupun bank terhadap usaha budidaya perikanan karena adanya resiko ketidakpastian yang tinggi, sehingga petani ikan kesulitan dalam memperoleh dana dalam upaya pengembangan usahanya.
Belum mantapnya pola perencanaan dan pembinaan tenaga kerja yang dapat memenuhi perkembangan usaha.

Aspek Sosial Ekonomi

Aspek Kelembagaan
Kelembagaan yang ada didalam usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila yaitu lembaga penyedia sarana produksi, lembaga penyedia dana, lembaga pemasaran, dan lembaga penyuluhan. 

Untuk memperoleh sarana produksi koperasi sangat berperan dalam hal ini adalah koperasi Mina Sejahtera yang mempunyai beberapa relasi dalam penyediaan sarana tersebut. Sedangkan kegiatan budidaya ikan nila dalam penyediaan sarana produksi selain dari koperasi Mina Nugroho juga mempunyai hubungan kerja/kemitraan dengan pabrik pakan Charun Chokan yang ada di Sidoarjo, sedangkan benih disediakan oleh koperasi Mina Jaya sebagai koperasi sekunder. 

Usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila modal berasal dari modal sendiri. Karena pemilik usaha tersebut tergolong didalam kelompok tani, mereka mendapatkan ban-tuan modal yang biasanya disebut dengan penguatan modal dari pemerintah. 

Lembaga pemasaran adalah badan – badan hukum atau perorangan yang meng-gerakkan arus barang dari produsen kepada konsumen. Lembaga pemasaran didalam usaha budidaya ikan gurami adalah pedagang pengepul lokal yang datang langsung ke tempat budidaya ikan gurami pada saat pemanenan, dari pedangang pengepul, ikan gurami ukuran konsumsi diantar ke restoran dan agen. Sedangkan lembaga pemasaran pada kelompok tani Mina Nugroho adalah agen, dari agen langsung kepada restoran/ pasar dan akhirnya kepada konsumen. 

Lembaga penyuluhan yang berperan dalam hal ini adalah pemerintah yaitu sub dinas perikanan Kabupaten Nganjuk di bawah naungan dinas kehewanan Kabupa-ten Nganjuk. Sub dinas perikanan Nganjuk biasanya memberikan penyuluhan satu bulan sekali pada awal bulan kepada para petani ikan melalui kelompok tani Mina Sejahtera untuk usaha ikan gurami dan Mina Nugroho untuk ikan nila. 

Aspek Hukum
Untuk memulai studi kelayakan suatu usaha pada umumnya dimulai dari aspek hukum, walaupun banyak pula yang melakukan dari aspek lain. Tujuan dari aspek hukum adalah untuk meneliti keabsahan, kesempurnaan dan keaslian dari dokumen-dokumen yang dimiliki. Dokumen yang perlu diteliti keabsahannya, kesempurnaan dan keasliannya meliputi badan hukum, izin – izin yang dimiliki, sertifikat tanah atau dokumen lainnya yang mendukung kegiatan usaha tesebut. 

Namun para petani ikan tersebut berada didalam sebuah lembaga koperasi. Dan masing – masing petani ikan tersebut belum mempunyai Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), karena surat izin ter-sebut hanya diwajibkan kepada perusahaan – perusahaan yang besar. 

Jadi kepemilikan usaha budidaya ikan tersebut belum mempunyai SIUP sehingga dari aspek hukum usaha tersebut belum layak/belum diakui secara legal.

Aspek Sosial Ekonomi 
Dari hasil penelitian diketahui bahwa usaha budidaya ikan gurami maupun ikan nila secara sosial, ekonomi dan budaya membawa dampak positif bagi masyarakat sekitar. Perubahan tersebut meliputi pen-dapatan, hubungan sosial, aktifitas lalu lintas, jalur komunikasi, tingkat keamanan, perilaku masyarakat dan adat istiadat. Beberapa peru-bahan secara sosial, ekonomi dan lingkungan meliputi : arus lalu lintas semakin ramai di daerah sekitar usaha, penerangan jalan yang semakin banyak, pekerja tidak tetap diambil dari masyarakat sekitar sehing-ga membantu pemerintah mengurangi pe-ngangguran, komunikasi semakin lancar karena adanya alat komunikasi seperti telepon, tersedianya sarana dan prasarana seperti pembangunan jalan, jembatan, listrik, tele-pon dan sebagainya. 

Dampak sosial yang timbul diantaranya adalah adanya perubahan struktur penduduk menurut kelompok umur, jenis kelamin, tingkat pekerjaan dan pendidikan, perubahan tingkat pendapatan penduduk, perubahan komposisi tenaga kerja baik tingkat partisi-pasi angkatan kerja maupun tingkat pengang-guran.

Pengembangan Usaha Perikanan

Aspek Lingkungan (AMDAL)
Komponen lingkungan hidup yang akan berubah secara mendasar dan penting bagi masyarakat disekitar tempat rencana usaha adalah kepemilikan dan penguasaan lahan, kesempatan kerja dan usaha, taraf hidup masyarakat dan kesehatan masyarakat. Karena air yang digunakan adalah air sungai dan air tanah yang bila digunakan secara berlebihan maka disekitar lokasi usaha menjadi berkurang dan akhirnya mengering. 

Karena budidaya ikan gurami dan ikan nila yang biasanya terbuka dan tidak ada pagar pengaman, cenderung mengundang tindakan kriminal seperti pencurian ikan oleh orang – orang iseng. Hal ini juga disebabkan oleh adanya kesenjangan sosial antara masyarakat sekitar. 

Adapun alternatif penyelesaian yang dapat dilakukan adalah memasang filter/ saringan air agar air yang keluar dari pembu-angan sudah bersih dan sehat, membuat saluran pembuangan yang teratur ke daerah tertentu sehingga tidak menganggu aktifitas masyarakat sekitar lokasi usaha, memberikan obat untuk menetralisir air yang tercemar seperti bahan – bahan kimia yang dapat me-matikan makhluk yang mengkonsumsinya dan memberi sedekah/zakat kepada yang membutuhkan yang ada di sekitar lokasi usaha, sehingga mereka merasa diperhatikan dan ada rasa hormat kepada pemilik usaha yang selanjutnya tidak melakukan pencurian dan tindakan kriminal lainnya.

Pengembangan Usaha Perikanan
Pada usaha budidaya ikan gurami yang ada di Mina Sejahtera belum ada pengembangan usaha secara spesifik, namun masing–masing anggota/pemilik usaha sudah mulai mengembangkan usaha perikanannya dengan komoditi lain yaitu budidaya ikan bawal air tawar yang sekarang ini ikan tersebut meru-pakan komoditi baru yang diharapkan dapat membantu dalam peningkatan pendapatan. 

Budidaya ikan nila yang ada di kelom-pok tani Mina Nugroho merupakan salah satu usaha pengembangan, yang sebelumnya komoditi utamanya adalah ikan lele. Dan sekarang ini komoditi lain yang sedang dibudidayakan baik pembenihan maupun pembesaran adalah ikan gurami, ikan mas, ikan bawal air tawar, dan ikan patin. Budidaya ikan nila juga dilakukan di sungai dengan metode keramba. Selain itu ada usaha pema-saran/jual-beli ikan segar seperti ikan ban-deng, wader, gabus dan udang yang dilakukan di kios pemasaran yang ada di samping koperasi Mina Nugroho. 

Koperasi perikanan merupakan strategi yang efektif dalam rangka manajemen pro-duksi dan pemasaran, terutama meningkat-kan kesejahteraan petani ikan dengan terdis-tribusinya hasil produksi oleh setiap pelaku agribisnis, sehingga kemitraan yang adil, saling menunjang dan saling menguntungkan antara petani ikan kecil dengan pengusaha ikan yang sudah besar benar–benar terwujud. Namun pengembangan usaha koperasi perikanan sangat tergantung oleh peran serta anggota koperasi perikanan serta pemerintah dengan sistem agribisnis terpadu. Agribisnis terpadu yang dimaksud adalah usaha gabu-ngan yang terdiri dari penyediaan sarana produksi, proses budidaya, pemberian kredit, simpan-pinjam, pengelolaan dana sosial, serta usaha pemasaran dari hasil produksi yang berupa benih dan ikan ukuran konsumsi serta ikan yang dalam bentuk olahan (fillet, bakso, nugget, tepung ikan dan sebagainya).

Peran koperasi perikanan (KUD Mina) adalah untuk menggabungkan, mendukung dan memperlancar sistem produksi, pengo-lahan dan pemasaran hasil produksi. Selan-jutnya untuk pengembangan produk dan manajemen yang lebih efektif, koperasi per-ikanan dengan peran serta pemerintah dalam hal ini adalah dinas perikanan melakukan pelatihan dan penyuluhan kepada pelaku agri-bisnis terutama petani ikan sebagai produsen, baik mengenai teknologi budidaya, kewira-usahan maupun manajemen pengelolaan usaha yang lebih baik.

Aspek Manajemen Budidaya Ikan Gurami

Aspek manajemen dan organisasi me-rupakan aspek yang sangat penting dianalisis untuk kelayakan suatu usaha. Baik menyang-kut sumberdaya manusia maupun rencana perusahaan secara keseluruhan, haruslah disu-sun sesuai dengan tujuan perusahaan. Tujuan perusahaan akan lebih mudah tercapai apabila memenuhi kaidah–kaidah atau tahapan dalan proses manajemen. Proses manajemen atau kaidah ini akan tergambar dari masing– masing fungsi manajemen yang ada. 

Dalam usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila telah menerapkan fungsi perencanaan meskipun masih sederhana. Baik dari persiapan teknis, peralatan, tenaga kerja, biaya, waktu pelaksanaan dan sebagainya mes-kipun tidak dibuat secara terstruktur. Di dalam usaha ini sudah dilakukan pembukuan meskipun masih sangat sederhana. Penentuan target waktu produksi budidaya ikan gurami adalah 6 bulan dan ikan nila adalah 4 bulan. 

Pada usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila sudah menerapkan fungsi pengorganisasian. Hal ini dapat dilihat dengan adanya pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas kepada pekerja, meskipun kadang–kadang melakukan kegiatan rangkap, karena jumlah tenaga kerja masih terbatas satu orang. 

Baik di dalam usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila dalam menggerakkan tenaga kerja masih belum berfungsi dengan baik karena tenaga kerja yang diambil masih memiliki hubungan keluarga dan tidak ada motivasi yang khusus untuk semangat dalam bekerja. Tetapi biasanya pemilik usaha akan membagi keuntungan yang merata sesuai dengan hasil pekerjaan/kegiatan. 

Pengawasan pada produk ikan gurami dilakukan untuk melihat apakah ikan ter-serang penyakit atau tidak. Namun untuk tenaga kerja tidak dilakukan pengawasan karena lebih mengandalkan pada kepercayaan terhadap tugasnya dan kesadaran dari pekerja sendiri. Sedangkan untuk usaha budidaya ikan nila, pengawasan dilakukan pada kualitas ikan nila, kualitas air, pemasaran

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa usaha ikan gurami dan ikan nila dalam pelaksanaan fungsi manajemen hampir sesuai/cukup baik. Jadi dari hipotesa bahwa pelaksanaa fungsi manajemen pada usaha tersebut sudah baik diterima, meskipun pada kenyataannya kurang sempurna.

Analisis Jangka Panjang Budidaya Ikan Gurami

Dalam menentukan kelayakan suatu usaha perlu dilakukan analisis jangka panjang yang meliputi Net Present Value (NPV), Net B/C, IRR (Internal Rate of Return), Payback Periode dan analisis sensitivitas.

a) Net Present Value (NPV)

Setelah nilai Net Benefit (B–C) masing–masing didiskontokan pada ting-kat discount rate 16%, selanjutnya nilai NPV dihitung dari total PVGB dikurangi total PVGC dan diperoleh nilai NPV dalam kondisi normal untuk usaha budidaya ikan gurami sebesar Rp. 287.501.653. Sedangkan usaha budidaya ikan nila diperoleh nilai NPV sebesar Rp. 510.422.496. Nilai NPV tersebut lebih besar dari satu dan lebih besar dari inves-tasi awal sehingga usaha tersebut me-nguntungkan dan layak untuk diteruskan.

b) Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)

Dari hasil perhitungan pada kon-disi normal diperoleh nilai Net Benefit (B–C) untuk ikan gurami sebesar 5,91 dan untuk ikan nila sebesar 3,5. Nilai Net B/C tersebut lebih besar dari satu sehingga kedua usaha tersebut layak untuk dijalankan.

c) Internal Rate of Return (IRR)

Dari perhitungan diketahui nilai IRR pada kondisi normal baik untuk usaha ikan gurami maupun usaha budidaya ikan nila lebih besar dari bunga pinjaman yang berlaku saat ini yaitu 16 %. Nilai IRR tersebut masing – masing adalah 125,71 % dan 75,73 %. Jadi usaha tersebut layak untuk dijalankan.

d) Payback Periode (PP)

Setelah dilakukan perhitungan diperoleh nilai payback period (PP) untuk ikan gurami adalah 2,17 tahun dan untuk usaha ikan nila nilai PP adalah 4,25 tahun yang mana kedua nilai PP tersebut lebih kecil dari PP maximum yaitu 6,25 tahun, sehingga dari segi pengembalian modal, usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila masih tetap layak untuk diusahakan. 

e) Analisis Sensitivitas

Di dalam analisis sensitivitas ini digunakan beberapa asumsi perubahan kondisi usaha selama dijalankan yang be-rupa kenaikan biaya dan penurunan gross benefit yang tujuannya untuk mengetahui bagaimana pengaruh usaha tersebut atau untuk mengetahui kepekaan suatu pro-yek terhadap perubahan yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Asumsi biaya naik sebesar 25% pada tahun 2005 – 2014

Asumsi biaya naik 25 % dida-sarkan pada tahun 2005 kondisi pere-konomian nasional yang masih belum normal karena banyak peristiwa yang terjadi di Indonesia sehingga sebagian besar biaya operasional mengalami kenaikan. Hasil perhitungan pada usa-ha budidaya ikan gurami di-peroleh nilai NPV Rp 211.801.826; Net B/C 4,35; IRR 92,99% dan Payback Periode 3,22 tahun.

Sedangkan untuk usaha ikan nila diperoleh nilai NPVRp.442.153.268; Net B/C 3,033724888 ; IRR 65,4% dan PP 5,21 tahun. Dari nilai – nilai tersebut diketahui bahwa baik usaha budidaya ikan gurami maupun ikan nila masih tetap layak untuk dija-lankan meskipun terjadi inflasi (kena-ikan) biaya 25% per tahun.

Asumsi Gross Benefit turun 10% pada tahun 2005 – 2014

Penentuan asumsi Gross Benefit turun 10% karena sejak terjadi banyak peristiwa yang ada di Indonesia baik bencana alam maupun yang lainnya mengakibatkan daya beli masyarakat terhadap komoditi ikan menurun, se-hingga penjualan usaha perikanan me-ngalami penurunan. Dari hasil perhi-tungan pada usaha budidaya ikan gurami didapat nilai NPV Rp. 228.464.186,32 ; Net B/C 4,7 ; IRR 99,97 % dan PP 2,88 tahun.

Sedangkan pada usaha ikan nila didapat nilai NPV Rp.432.065.184 ; Net B/C 2,964508 ; IRR 63,81 % dan PP 5,4 tahun. Dari nilai–nilai tersebut ternyata baik usaha budidaya ikan gurami maupun ikan nila masih tetap layak untuk dijalankan. 

Asumsi biaya naik 25% dan Gross Benefit turun 10% pada tahun 2005–2014

Untuk melihat tingkat kepe-kaan dari usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila bila terjadi kemungkinan yang sangat buruk ditentukan asumsi dari gabungan antara biaya naik 25% dan Gross Benefit turun 10%. Dari perhitungan diketahui untuk usaha budidaya ikan gurami mempunyai nilai NPV Rp. 152.764.359,90 ; Net B/C 3,14 ; IRR 66,22 % dan PP 5,04 tahun. Sedangkan ikan nila mem-punyai nilai NPV Rp. 363.795.956 ; Net B/C 2,496 ; IRR 53,25 % dan PP 7,1 tahun nilai ini melebihi kondisi Payback Periode maksimum, sehingga secara perhitungan usaha ikan nila tidak layak untuk dilanjutkan dalam kondisi biaya naik 25% dan benefit turun 10%. 

Nilai – nilai tersebut diatas yakni NPV, Net B/C ternyata lebih besar dari satu, IRR lebih besar dari suku bunga pinjaman bank yaitu 16% dan Payback Periode lebih kecil dari Payback Periode maksimum, sehingga usaha tersebut masih tetap layak untuk dilanjutkan meskipun terjadi kenaikan biaya melebihi 25% dan Gross Benefit turun melebihi 10%. Mengacu pada nilai tersebut menun-jukkan sensitivitas usaha ini cukup tinggi artinya usaha ini mempunyai toleransi cukup tinggi terhadap goncangan akibat biaya naik ataupun pengurangan benefit (laba). Jadi usaha budidaya ikan gurami dan ikan nila dilihat dari aspek finansial masih tetap layak untuk tahun- tahun mendatang.